Paper Neutral Program

Grup perusahaan tempat saya bekerja memiliki komitmen yang baik untuk masalah lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja, atau disingkat EHS (Environment, Health and Safety). Hal ini ditunjukkan tidak hanya dari praktek di lapangan, tapi juga penerapan di atas kertas. Salah satu buktinya adalah penerapan ISO 14001 mengenai standar internasional tentang lingkungan  dan OHSAS 18001 tentang kesehatan dan keselamatan kerja.

Nah, salah satu program EHS yang dilaksanakan tahun ini adalah ‘Tree Planting’ atau penanaman pohon. Program ini dilaksanakan hari Sabtu lalu, tanggal 19 Oktober 2013 di Sentul Eco Edu Tourism Forest (disingkat EETF) Bukit Hambalang, Sentul Selatan. Hutan ini adalah sebuah proyek kerjasama antara Indonesia dengan Republic Of Korea. Lebih lanjut tentang tempat ini akan saya bahas di artikel lain.

Continue reading

Membuat perbedaan

Seorang pria berjalan di sebuah pantai sendirian. Saat itu senja mulai turun dan angin bertiup sepoi-sepoi. Di kejauhan dia melihat ada seorang anak kecil. Anak kecil ini terlihat sibuk melempar sesuatu ke laut. Karena penasaran, pria ini pun berjalan mendekati anak ini.

Semakin dekat semakin jelaslah apa yang sedang dilakukan oleh si anak. Dia memungut bintang laut yang terdampar di pantai kemudian mengambil ancang-ancang dan lalu melemparnya ke laut.

Pria ini tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Setelah beberapa waktu, ia akhirnya bertanya pada si anak, “Apa yang sedang kau lakukan nak?”.

Anak itu menjawab, “Aku sedang melempar bintang-bintang laut ini kembali ke laut. Kalau tidak, mereka akan mati di pantai”.

“Tapi nak, ada begitu banyak bintang laut yang terdampar. Saya rasa tidak akan ada perbedaan apakah kamu melempar mereka kembali atau tidak”, begitu jawab si pria ini lagi.

Sang anak terdiam, seolah sedang merenungi ucapan si pria. Kemudian dia memungut sebuah bintang laut, dan melemparnya kembali ke laut. Dia pun berkata, “Aku membuat perbedaan dengan bintang laut yang baru aku lempar itu”.

Ini bukan sebuah cerita baru. Mungkin anda pernah membacanya, atau mendengarnya dari seseorang. Saya sendiri dulu membacanya dari sebuah kata mutiara yang terdapat di kalender meja di ruang klinik perusahaan. Cerita yang simpel tapi penuh makna.

Cerita ini terngiang kembali di benak saya pagi ini ketika tiba-tiba saya dihadapkan pada 2 pilihan saat mengendarai sepeda motor, menerobos lampu merah atau menunggu lampu berubah hijau.

Beberapa pengemudi motor di depan saya memilih untuk menerobos lampu merah. Dengan santainya mereka melenggang mengikuti arus kendaraan di depan mereka. Terbayang betapa nikmatnya mengikuti arus tersebut dan menghemat waktu beberapa menit… tapi ingatan tentang cerita di atas menghentikan saya.

Dari sudut pandang orang kebanyakan, seperti sudut pandang sang pria, melempar bintang laut yang terdampar di pantai kembali ke laut adalah perbuatan sia-sia. Selain jumlah yang terdampar cukup banyak, toh walaupun dilempar, sebagian akan kembali terdampar lagi. It’s just not worth it.

Sebaliknya dari sudut pandang sang anak, setiap bintang laut yang berhasil ia kembalikan ke pantai adalah sebuah keberhasilan, sebuah proses menuju kesuksesan. Terus kenapa kalau sebagian akan kembali terdampar? Bukankah sebagian lagi berhasil hidup di laut? Bukankah itu berarti kita sudah membuat perbedaan?

Sama seperti kondisi pagi itu. Begitu banyak orang yang berpikiran, ‘ah cuma melanggar lampu merah’, atau ‘saya udah lihat kanan kiri kok, kosong’, atau ‘saya udah terlambat nih’… dan lain lain. Bahkan ada di suatu lokasi saya lihat polisi cepeknya berani menghentikan arus kendaraan walaupun lampu lalu lintasnya berwarna hijau, dan mempersilahkan kendaraan dari arah lain yang lampu lalu lintasnya masih merah, demi untuk mendapatkan rupiah. Kondisi yang luar biasa.

Akhirnya saya secara sadar telah memilih. So what kalo semua orang melanggar lampu merah? Saya tidak, dan dengan tidak melanggar lampu lalu lintas di pagi itu, saya telah membuat perbedaan.

Apakah anda juga membuat perbedaan hari ini?

Mindset Karyawan

Di pabrik kami ada seorang yang terhitung senior. Sebut saja Pak Joko namanya. Beliau sudah bekerja puluhan tahun di pabrik ini dan merasakan pahit getirnya bekerja disini. Mulai dari tutup pabrik tahun 1998 akibat kerusuhan, bekerja lagi di tahun-tahun berikutnya, sampai perubahan kepemilikan dan sistem manajemen 3 tahun yang lalu.

Usia Pak Joko sudah tidak bisa dibilang muda. Sekarang masuk umur ke 53. Artinya sudah masuk usia persiapan pensiun. Tapi sampai sekarang dia masih giat bekerja. Selain bekerja sendirian, hingga saat ini memang tidak ada orang yang bisa mengganti posisinya.

Continue reading

Penyemprotan Anti Demam Berdarah

Hari ini secara inisiatif RT kami melakukan penyemprotan anti demam berdarah. Ini karena telah jatuh korban sebanyak 3 orang di komplek kami. Kebetulan lokasi ketiganya juga cukup berdekatan.

Seorang korban adalah jamaah musholla komplek. Pak Heru namanya. Kami menjenguk beliau persis satu hari setelah dia keluar dari rumah sakit. Menurut pengakuannya, dia sudah 1 minggu dirawat dan baru boleh keluar setelah trombositnya naik.

Continue reading

Disana ada Allah

Pertama kali bertemu dengan Pak Fathi Bawazier adalah saat momen Wanna Be Trainer atau disingkat WBT, Batch yang ke 10. Kebetulan beliau ada di kelompok yang berbeda dengan kelompok saya.

Saat itu tidak terasa ada sesuatu yang istimewa dari diri beliau. Kecuali memang untuk kumisnya yang mengingatkan saya pada tokoh Pak Raden… 🙂

Continue reading

Reuni WBT 10 – Wanna Be Writer

Pembicara yang terakhir di acara reuni WBT 10 adalah Mr. Jabrix alias Umarat Adlil. Sengaja beliau diletakkan di posisi terakhir agar waktunya bebas dan lebih panjang, kalau perlu sampai malam… hehehe…

Mas Umarat saat ini masih berstatus sebagai karyawan di salah satu TV swasta. Tetapi beliau memiliki skill di bidang menulis dan beberapa kali memenangkan perlombaan menulis serta mendapat penghargaan.
Continue reading

Reuni WBT 10 – TBnC? Siapa takut

Tulisan kali ini akan memuat laporan selayang pandang dari sharing dua punggawa WBT 10 di Trainer Bootcamp and Contest #9 yang lalu yaitu Fathi Bawazier dan sang juara Tony Yansen.

Pak Fathi memulai terlebih dahulu dengan memberikan pandangannya tentang training-training yang diberikan oleh Pak Jamil Azzaini. Kenapa beliau memutuskan untuk ikut TBnC? Tidak lain karena kecintaannya kepada komunitas ini yang sudah terbentuk sejak event WBT 10 yang lalu. Makanya dengan bermodal nekat, dia pun masuk ke kawah candradimuka para trainer ini.
Continue reading

Reuni WBT 10 – It’s only in your mind

Hari minggu ini, tanggal 6 Oktober 2013, para alumnus WBT 10 mengadakan acara reuni yang berlokasi di tempat prakteknya mbak Iis di Jakarta Selatan.

Agenda acaranya menarik dan padat. Selain menjadi ajang reuni, acara ini juga sekaligus menjadi panggung untuk mengaplikasikan ilmu WBT lalu secara langsung.

Setidaknya ada 4 orang yang melakukan sharing di hari itu. Ada Agus Heru Pitoyo, Umarat Adlil, Fathi Bawazier dan Tony Yansen. Tulisan kali ini akan membahas tentang sharing dari pembicara pertama yaitu Mas bro Agus Heru Pitoyo.
Continue reading

Passion = Direction

Sore ini akhirnya bisa ketemu langsung dengan seorang wanita luar biasa yang sebelumnya cuma bisa saya lihat di youtube atau tivi. Dia seorang pengusaha, motivator, dan sekarang banyak menjadi pembicara. Dialah Merry Riana.

Merry hanya berbicara selama 2 jam. Tapi selama 2 jam itu aura inspirasinya sungguh kuat. Intonasinya pas, gerakannya enak dilihat. Semuanya serba natural. Entah berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk bisa menjadi seperti itu.
Continue reading

Kopi dan cangkir

Beberapa waktu yang lalu seorang teman berbagi cerita tentang kopi dan cangkir. Katanya dia dapat cerita ini dari Mario Teguh. Pak Mario bercerita begini: Suatu waktu ada seorang Profesor mengundang beberapa mahasiswanya ke rumahnya. Sang Profesor pun membuatkan kopi untuk menjamu tamunya. Berhubung dia tidak punya banyak cangkir, akhirnya diambillah cangkir dan gelas seadanya.

Sang Profesor pun menuangkan kopi ke setiap cangkir dan gelas. Ada cangkir keramik mahal, ada cangkir keramik biasa, ada gelas jadul, ada gelas plastik dan lain-lain.

Continue reading