My Passion

Tulisan kali ini adalah tentang Passion yang merupakan bab kedua dari buku “ON”. Bagi saya pribadi, passion adalah sesuatu yang sangat kita sukai sehingga ketika kita melakukannya, kita tidak bisa membedakan antara bekerja atau bermain. Perbedaannya menjadi hilang. Work is where you play.

Pak Jamil mengartikannya sebagai sesuatu yang gue banget.Dulu sekali, sebelum saya paham apa itu passion, saya pernah melihat sebuah tayangan televisi yang mengundang seorang pengusaha muda untuk berbincang-bincang. Saat ditanya, “mengapa anda terlihat begitu enerjik dalam melakukan pekerjaan anda?” Dia menjawab dengan satu pernyataan yang terus terngiang dalam ingatan saya sampai sekarang. Dia bilang, “because I like it”.

Mulai saat itu saya berangan-angan bahwa suatu saat nanti saya akan melakukan hal yang saya sukai dan menjadi expert di bidang saya, hingga saya pun dapat mengatakan hal yang sama seperti pengusaha muda itu. Sayangnya, saya sekarang benar-benar tidak ingat nama dan wajah si pengusaha muda itu.

Banyak orang sekarang ‘galau’ tentang passionnya sendiri. Mereka berpikir bahwa mereka tidak punya passion. Padahal tidak ada orang yang bisa memberitahu anda hal apa yang anda sukai, melainkan diri anda sendiri. Ibarat seseorang memberhentikan sebuah taxi. Saat berada di dalamnya, sang supir bertanya “mau kemana pak”. Lalu sang penumpang menjawab “kemana aja terserah bapak…”

You will get nowhere kalau ini yang terjadi. Tapi sayangnya, inilah yang banyak terjadi. Ada orang terlihat sukses berbisnis kuliner, ia pun bisnis kuliner. Ada orang sukses bisnis fashion, dia berubah ikut-ikutan bisnis fashion. Bisnis yang dijalankan atas dasar ikut-ikutan ini biasanya tidak dapat bertahan lama karena pemiliknya kehilangan semangat ditengah jalan.

Saya percaya bahwa sesuatu harus dimulai dengan hati. Apapun yang dimulai dengan hati akan membuahkan hasil yang memiliki nilai. Dua orang yang melakukan hal yang sama, misalkan mendaki sebuah gunung yang terjal dan sulit, akan memperoleh hal yang sama yaitu sampai di puncak gunung. Tetapi hasil yang sama tersebut bisa saja memiliki nilai yang berbeda. Pendaki pertama mendaki gunung karena cuma sekedar ingin. Sedangkan pendaki kedua mendaki karena di atas sana ada sebuah desa yang menunggu kiriman obat-obatan yang dia bawa. Sama-sama mencapai puncak, tapi value/nilainya berbeda.

Pada awalnya saya juga kesulitan mendefinisikan apa passion saya. Saya memang memiliki beberapa hal yang saya sukai. Tetapi tentunya tidak semuanya adalah passion. Maka pencarian passion saya dimulai sejak tahun lalu.

Pencarian pertama saya dimulai di bidang komputer. Setelah mendapat THR, maklum karyawan, saya mendaftar kursus teknisi komputer. Kurang lebih 3 bulan saya belajar merakit, trouble shooting dan networking. Dari sejak kuliah memang saya sudah merakit komputer sendiri. Maka pelajarannya dapat saya tangkap dengan baik.

Apakah ini passion saya? Awalnya saya rasa begitu. Setelah lulus, saya pun bersemangat untuk membuka service komputer dan jaringan. Tetapi kemudian, setelah mendapatkan beberapa ‘pasien’, komputer rusak milik adik, feel itu hilang. Saya memang menyukai bidang ini, tetapi kok rasanya ngga sampai yang membuat jiwa ini ketagihan. So, rencana awal yang tadinya mau melanjutkan kursus sampai ke teknisi laptop saya batalkan.

Pencarian saya selanjutnya ada di bidang training. Sudah lama sebetulnya saya tertarik di bidang ini. Beberapa track record saya di masa lalu meninggalkan jejak yang membuat saya percaya bahwa saya punya potensi untuk menjadi trainer. Maka saya pun mencari jalan. Sekian website saya kunjungi untuk mencari info. Dan akhirnya pencarian saya berhenti di situs i2move.com dengan program Wanna Be Trainer (WBT).

Setengah memaksakan diri, kali ini lagi-lagi dengan uang hasil THR… saya mendaftarkan diri di WBT batch 10.

Hasilnya luar biasa. Energi passion terasa meluap-luap. Dari mana energi itu? Well, saya rasa itu adalah gabungan antara hipnosis stage performancenya Pak Jamil plus hasrat dari diri sendiri yang akhirnya berhasil menampakkan wujudnya. Yes… I can feel it, this IS my passion.

Di WBT 10, saya merasakan feel yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berada di kumpulan orang-orang positif dengan energi yang positif benar-benar membuat energi saya menjadi energi positif. Walaupun sebelumnya saya tidak mengenal orang-orang ini, tetapi lewat media social network, kami tetap berhubungan pasca pelatihan dan rasanya seperti memiliki cadangan baterai yang dibawa ke mana-mana.

In the end saya menarik kesimpulan bahwa menjadi trainer adalah my long lost passion yang sudah saya temukan kembali. Maka my next action seharusnya berbasis pada passion ini, dengan tidak melenceng dari visi pribadi yang telah dibuat sebelumnya.

(To be continued…)

Leave a Reply

Your email address will not be published.