Pages

Categories

My Vision

Dalam tulisan saya sebelumnya, ada tips untuk mudah menulis yaitu 3 AT: lihat, catat, dan tamat. Ternyata saya masih butuh banyak latihan untuk bisa konsisten melaksanakan hal yang ketiga, yaitu tamAT. Soalnya sejak tulisan terakhir yang dipublish di blog ini, sebetulnya saya sudah membuat beberapa draft tulisan, tetapi ternyata sedikit yang berhasil diselesaikan sampai tamat.

Salah satu alasannya kenapa tulisan saya macet adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di Bulan Oktober lalu. Alhamdulillah, Allah telah melimpahkan berkah yang sungguh luar biasa kepada kami di bulan itu.

Berawal dari membaca buku dengan judul paling singkat yang saya pernah lihat yaitu ‘ON’ karya Pak Jamil Azzaini, satu per satu rencana-rencana kehidupan yang kami rancang mulai terwujud. Sebetulnya buku ini sudah saya baca sejak Bulan Agustus. Tetapi baru mulai September kami, saya dan istri, melakukan action.

Prosesnya dimulai dari pembuatan proposal hidup yang gue banget. Ini adalah pelaksanaan bab pertama dalam buku ON yaitu tentang Vision. Bila selama ini saya menjalani hidup mengalir seperti air, maka saya memutuskan untuk tidak lagi menjalani hidup seperti ini. Lagi pula ternyata tidak semua air mengalir ke laut, sebagian berakhir di selokan yang mampet atau lebih buruk lagi… berakhir di dalam septic tank… hiiii… enggak deh.

Dalam proposal hidup saya, ada dua hal yang ingin saya peroleh yaitu hidup mulia mandiri. Mulia berarti hidup sesuai dengan tuntunan dari Sang Khalik sehingga kita mulia di sisi Nya, Insya Allah. Soalnya kadang kala mulia di mata manusia tidak menjamin kemuliaan di sisi Allah. Oleh karena itu, saya mengejar kemuliaan yang lebih tinggi.

Sedangkan mandiri berarti memiliki kebebasan dalam hal ideologi dan finansial. Mandiri ideologi berarti bebas menentukan sikap hidup sesuai dengan hal yang saya rasa benar, sesuai dengan hati nurani saya. Tidak harus mengikuti aturan orang lain hanya karena tidak enak hati, atau karena posisi orang itu sebagai bos saya.

Mandiri finansial berarti memperoleh penghasilan bukan lagi dari gaji sebagai karyawan, melainkan dari sumber lain yang Insya Allah lebih baik. Ini artinya mau tidak mau harus berpindah quadran. Kalau mengikuti rumus Cashflow Quadrannya Robert Kiyosaki, berpindah dari quadran E (Karyawan), ke quadran S (Pekerja profesional, seperti dokter atau pengacara), quadran B (Business owner), atau quadran I (Investor). Saya mencoba masuk ke quadran S dan B secara berbarengan.

Dalam proposal hidup, saya juga masukkan cara bagaimana saya akan memperoleh kehidupan yang mulia mandiri, serta kapan itu akan tercapai. Dengan demikian saya memiliki target dan time line yang selalu berfungsi sebagai reminder.

Proposal hidup beres… selanjutnya adalah action atau ikhtiar. Proposal hidup adalah sebuah bentuk lain dari mimpi, visi, cita-cita atau apapun namanya. Ia ada di alam abstrak. Maka untuk mewujudkannya dibutuhkan usaha dan kerja keras. Seberapa besar ia akan terwujud di dunia nyata sangat bergantung kepada seberapa besar action yang sudah kita lakukan.

Memang adakalanya kita sudah melakukan action mati-matian untuk mewujudkan mimpi kita tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Bila kondisinya seperti ini, jangan pernah berputus asa. Ibarat sedang mendaki bukit, bisa jadi hasil yang kita cari ada di bukit sebelah, atau lebih dekat lagi. Kegagalan bukanlah akhir tujuan. Anda hanya perlu berbelok sedikit atau mencari jalan yang lain untuk menuju ke kesuksesan yang anda cari.

So… saya putuskan untuk melakukan hal yang sudah lama saya ingin lakukan…

(To be continued…)

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *