Pages

Categories

My Action

Saya sudah menetapkan visi pribadi saya. Saya juga sudah menemukan passion saya. Dalam bab ketiga di buku “ON”, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah action.

Oke… saatnya untuk melakukan analisa kecil-kecilan. Kali ini kita perlu untuk sejenak keluar dari rutinitas sehari-hari dan masuk ke ‘big picture’. Aktifitas ini dalam dunia pekerjaan disebut gap analysis, atau analisa kesenjangan. Apa yang di analisa? Kesenjangan atau perbedaan antara kondisi yang diinginkan dengan kondisi aktual saat ini.Saya ingin hidup yang mulia mandiri. Saya memiliki passion di bidang training. Apakah saat ini saya ada di jalan yang benar? Sad but true, hasil analisa kecil-kecilan saya menunjukkan bahwa saat ini saya belum berada di jalur yang dapat membawa saya menuju ke tujuan yang saya inginkan.

Yang sangat saya inginkan adalah melakukan sebuah pekerjaan yang gue banget, sampai-sampai tidak dapat membedakan apakah saya sedang bekerja atau sedang bermain. Bahkan tidak akan menjadi masalah bila pekerjaan ini tidak mendapat bayaran sekalipun. Simply because I like it.

Saya bersyukur bahwa saya memiliki pekerjaan saat ini. Tetapi sudah saatnya bagi saya untuk memutuskan, apakah saya ingin meraih impian saya, tujuan hidup yang saya buat sendiri, atau menjalani hidup seperti air… just go with the flow.

I choose to chase my dream, and therefore I have to resign.

Pilihan ini tentunya bukan tanpa konsekuensi. Ini adalah sebuah langkah meninggalkan ‘zona aman’. Sebuah langkah yang begitu berat, menghadapi segala ketidakpastian di depan sana.

Pernah membaca buku “Who moved my cheese”? Saya tahu buku ini dari blognya Pak Roni Yuzirman. Nah, kondisi ini persis seperti yang digambarkan di buku itu. Maaf, jangan pernah pinjam bukunya dari saya, soalnya saya juga membacanya di Gramedia… hehehe…

Kurang lebih dalam buku itu diilustrasikan ada 2 ekor tikus dan 2 orang kurcaci yang tinggal di sebuah labirin. Mereka bertemu setiap hari di sebuah tempat dimana banyak terdapat keju. Mereka sangat menikmati kehidupan mereka sampai akhirnya pada suatu hari datang sebuah kenyataan pahit… keju mereka menghilang.

Kedua ekor tikus, dengan mengandalkan naluri hewan mereka dengan serta merta meninggalkan tempat itu dan mencari ladang keju baru. Sedangkan kedua kurcaci itu berada dalam kebingungan. Setiap hari mereka kembali ke tempat itu, dan mereka tetap mendapati keju mereka tidak di sana lagi. Kenapa mereka tidak meninggalkan tempat itu? Karena di hadapan mereka terhampar lorong yang gelap dan penuh ketidakpastian.

“Bagaimana jika saya tersesat, bagaimana jika saya tidak bisa menemukan ladang keju baru, bagaimana jika… bagaimana jika…” begitu terus pertanyaan yang terngiang dalam benak mereka.

Akhirnya salah satu kurcaci memberanikan diri untuk meninggalkan tempat itu, mengikuti jejak para tikus. Sedangkan satu kurcaci lagi memutuskan tetap tinggal.

Kurcaci yang berani ini dalam perjalanannya menemukan bahwa ternyata kondisi tidak seburuk yang ia bayangkan. Bahkan ia berhasil menemukan ladang keju baru. Ia sempat kembali mengajak temannya untuk bersama-sama menempuh perjalanan itu. Tetapi sayang, temannya menolak dan bersikeras bahwa ia akan terus menunggu. Akhirnya mereka berdua pun berpisah menempuh jalan hidup mereka masing-masing.

Nah, dihadapan saya saat ini pun ada terhampar lorong gelap ketidakpastian. Tetapi saya memutuskan untuk move on. Saya putuskan untuk menjadi seorang trainer dan entrepreneur.

Maka saya pun mencari jalan, bagaimana caranya agar saya bisa selangkah lebih dekat dari tujuan saya. Dengan mengandalkan pengalaman saya sebagai inhouse trainer sekaligus MC tunggal bila ada event di pabrik, saya pun mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan training dengan kepercayaan tinggi. Hasilnya… tidak ada satupun yang menghubungi saya kembali.

Saya pun mencoba lagi, kali ini lewat jalur yang lain. Di pertengahan bulan Oktober tiba-tiba ada pengumuman dari Divisi peningkatan kapasitas anggota TDA bahwa mereka sedang mencari 25 orang untuk dididik sebagai trainer bagi anggota TDA di seluruh Indonesia. Itu berarti menjadi trainer untuk kurang lebih 20.000 orang! Ini kesempatan yang langka, maka saya pun tidak menyia-nyiakannya. Segera saya melengkapi data-data yang dibutuhkan dan mengirimnya.

Sehari, dua hari… sungguh waktu terasa berlalu begitu lama saat kita sedang menanti sesuatu. Akhirnya selang 6 hari, pengumuman hasil seleksi yang ditunggu-tunggu tiba via email. Dag dig dug saya intip surat elektronik itu… ternyata… kali ini saya berhasil lolos seleksi dan otomatis menyandang predikat baru sebagai trainer TDA. Alhamdulillah.

(To be continued…)

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *