Tanggal 28-30 Juni 2013 lalu saya telah menjalani 3 hari training Wanna Be Trainer (WBT) yang sungguh memukau. Tema pelatihan tersebut adalah berani tampil, sistematis, berpengaruh dan dipandu langsung oleh Jamil Azzaini.
Pak Jamil sungguh merupakan seorang pembicara yang kawakan. Dengan jam terbang yang tinggi, beliau membawa kami, para peserta, terbawa dalam arus ombak yang dibuatnya. Kadang lembut tanpa riak dan kadang kencang diterpa badai. Kita hanya bisa mengira-ngira…dan pasrah :)… ke arah manakah sang nahkoda membawa kami?
Pelatihan disusun dengan cara yang berbeda dari training kebanyakan. Bila dalam training yang umum saya ikuti, secara monoton peserta mendengarkan dan trainer menjelaskan… di training ini rasanya beda aja. Setelah penjelasan yang diramu secara apik, kita langsung mempraktekkan apa yang kita pelajari, sambil keringat dingin ketika giliran kita untuk presentasi tiba… hehehe…
Hari pertama kita belajar untuk berani tampil. Skema 80:20 dimunculkan, dimana digambarkan 80% orang hanya menjadi orang rata-rata yang berebut rejeki di ceruk 20%, sedangkan hanya 20% orang special berbagi rejeki di ceruk yang 80%. Orang-orang spesial ini menjadi spesial karena mereka “bicara”.
Banyak orang takut ketika harus tampil di depan publik. Pak Jamil pun menceritakan kisah tentang rantai gajah dan menginspirasi kami bahwa kebanyakan ketakutan kita sebenarnya hanya ada dalam pikiran. Ketakutan itu bisa diatasi dengan memutuskan rantai gajah yang membelenggu pikiran kita. Caranya? Ketahui apa ketakutan kita, gali apa yang terjadi bila kita membiarkan ketakutan tersebut dan akhirnya bertindak untuk mengatasinya.
Sebagai penutup di hari pertama ini, kita diminta untuk menuliskan apa prestasi terbaik yang ingin kita capai dalam hidup kita. Kemudian deklarasikan di depan teman per kelompok. Di sesi pamungkas, kita membentuk sebuah lorong panjang dan beberapa orang diminta untuk maju ke depan untuk meneriakkan deklarasinya di depan para peserta dengan lantang. Sungguh sebuah momen yang sangat inspiratif dan menakjubkan.
Hari kedua temanya sistematis. Di sini kita mulai menyusun materi dan diajarkan step by step bagaimana caranya agar terstruktur dengan baik. Pertama kita tentukan tema. Tema haruslah sesuatu yang gue banget. Sesuatu yang kita nyaman menyampaikannya dan memiliki passion di bidang itu. Beri juga penjelasan tentang kenapa tema tersebut menarik buat kita.
Step yang kedua adalah menyusun why, what dan how dari tema itu. Why berarti menjelaskan tentang kenapa tema itu kita pilih dan apa manfaat yang bisa diperoleh oleh audiens dari tema tersebut. What berarti menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan tema itu. Dan how berarti menjelaskan tentang bagaimana caranya kita bisa mencapai apa yang menjadi tujuan dari tema yang sudah kita buat diawal.
Saran dari Pak Jamil, how dibuat paling banyak 3 saja. Contohnya tag SuksesMulia. Untuk mencapai hidup SuksesMulia, perlu memiliki 3 hal yaitu Expert, Asset dan Epos. Jadilah seorang expert/ahli seperti Michael Schumaker, dengan mengendarai Asset, yaitu mobil Ferrary, dengan menggunakan bahan bakar Epos yang benar.
Setelah itu setiap orang mempresentasikan materinya di depan kelompoknya. Kemudian kita diminta memilih siapa yang presentasinya paling baik dan orang tersebut nanti naik ke panggung untuk presentasi mewakili kelompok. Dari kelompok kami terpilih Kang Micki untuk maju ke depan.
Jadilah sore itu kami menyaksikan para perwakilan kelompok membawakan presentasi dengan gayanya masing-masing. Ada yang serius, ada yang santai, ada yang lupa materi, ada yang lucu dan ada yang pakai gaya khatib jumat… hebohlah.
Kemudian datanglah hari terakhir. Hari ketiga ini temanya adalah berpengaruh. Jika kemarin kami belajar membuat materi secara sistematis, sekarang kita diminta untuk lebih menjiwai materi tersebut dengan menambah intonasi nada, dll.
Setiap orang diberikan beberapa lembar kertas berisi puisi dan narasi. Kita pun diminta untuk maju ke depan kelompoknya dan membawakan puisi dan narasi itu dengan menambah intonasi, tempo dan ekspresi agar menjadi lebih hidup.
Bagian paling membuat deg-degan adalah ketika peserta diminta untuk membawakan materi milik sendiri dan mempresentasikannya di depan kelompok lain. Ketahuan deh kalo ngga siap. Kemudian selesai presentasi, panitia memilih beberapa peserta untuk membawakan materinya di atas panggung.
Penutup dari acara ini adalah saling curhat dalam bentuk doa kepada Allah. Setiap kelompok membentuk lingkaran kecil, dan satu orang akan masuk ke dalam lingkaran itu serta mengucapkan doanya dan diamini oleh anggota kelompok yang lain. Saat itu lampu ruangan di padamkan. Inipun menjadi akhir yang emosional bagi kami semua.
Selesai acara curhat, secara resmi WBT batch 10 ditutup dan kami pun kembali menempuh jalan hidup kami masing-masing. Walaupun demikian, 50 orang tergabung dalam grup WhatsApp dan kita masih sering berbagi epos dan pengalaman di grup yang sangat positif ini.
Terima kasih WBT.
Recent Comments