Hari Minggu, tanggal 15 September 2013, saya berkesempatan mengikuti sebuah workshop yang kalau dilihat dari judulnya, ngga gue banget: “Workshop stand up comedy”. Itupun sebetulnya dapat kesempatan yang tidak diduga-duga. Setelah ikut training “Public Speaking for Entrepreneur” dari Iwel Sastra di minggu sebelumnya, tak dinyana beliau menawarkan kami para peserta untuk sit in sebagai observer di kelas tanggal 15 September.
Setelah dipikir-pikir saya akhirnya mendaftarkan diri untuk ikut. Ngga ada salahnya toh, pikir saya. Siapa tau dapat masukan-masukan yang berharga untuk memperkaya materi public speaking saya.
So, there I was. Dan jujur saya bilang, saya kecewa… kecewa berat malah… kenapa saya cuma jadi observer karena ternyata banyak ilmu yang saya dapat dari kelas itu 🙂 Belakangan baru saya tau kalau ternyata orang-orang yang ada di sini adalah orang terundang yang dipilih dari sekian banyak orang yang ikut kontes Iwel di twitter.
Baru masuk ruangan training saya udah ketemu seorang Ibenk… pentolan radio SK dan mengaku seorang HRD pula… Humor Resource Department. Ada lagi Usamah, yang berbagi ilmu hasil berguru ke Malaysia. Ilmunya t.o.p.b.g.t… Ada mas Aziz (maaf kalo namanya salah – saya beneran lupa…) yang sharing pengalaman di U.S saat pertukaran pelajar, plus ikut kursus stand up comedy di sana. Ada mas Dhani yang sharing soal comedy dari perspektif seorang entrepreneur. Trus ada Asep, Reza takkuasa dan banyak lagi. Yang ngga disebut jangan marah ya… banyak bo pesertanya… peace 🙂
Setelah saya berguru dari para master disitu, ternyata baru saya tahu kalau ilmu dan jurus-jurus Stand Up Comedy sama sekali ngga lucu. Malah cenderung serius dan bikin stress. Bayangin, buat dapetin materi 10 menit aja, mereka perlu prepare ngga cukup 1-2 hari. Ngga kebayang deh kalau mereka harus perform lebih dari 30 menit.
Disini baru saya tau bedanya Stand Up Comedy dengan lawak biasa. Kalau lawak, ngga ada pakem, kalau anda cerita sesuatu trus audiens tertawa… itu sudah cukup. Tapi stand up comedy harus memenuhi 2 syarat mutlak: ada set up, ada punch line. Set up pun ngga sembarangan, jangan sampai kepanjangan. The best set up is a short set up. Biar pendek, bisa pakai jurus one liner, rule of three, big big small, de el el (yang terakhir ini bukan jurus :D). Kalo mau tau lebih jelas tentang jurus2 itu lebih baik googling aja ye… takut ane salah2 kate… hehehe…
So… di bagian terakhir semua orang diminta perform ke depan dengan membawa 3 tema yang sudah ditentukan sebelumnya. Di sinilah kelihatan mana comic yang udah punya jam terbang sama yang belum. Ada yang santai bawa materi dan lucu. Ada yang santai bawa materi tapi ngga lucu. Ada juga yang ngga santai dan ngga lucu. Well, ini ajang latihan sih, jadi ngga wajib lucu. Yang penting teorinya paham.
Di sini juga saya mendapat kejutan. Seorang fasilitator di WBT 10 ternyata ada di kelas ini sebagai salah satu yg diundang. Lebih surprise lagi, duduknya persis di sebelah kanan saya. Memang saya perlu waktu untuk mengenali beliau karena penampilan sehari-harinya beda dari penampilan panggungnya. Tapi akhirnya saya ingat juga sama @cakaep, sang motivator ngguyu. Dunia memang cuma selebar tali kolor… ups… daun kelor…
Jadi begitulah hari minggu itu saya habiskan dengan workshop yang menarik. Full of nice people and full of knowledge. Semoga ilmu yang didapat ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, utamanya dalam pekerjaan sehingga hidup jadi lebih berwarna.
Thanks Uda Iwel.
Recent Comments