Sariawan

Sudah seminggu ini saya mengalami sariawan. Awalnya hanya sebuah titik di ujung bibir bawah sebelah kiri. Kemudian ia melebar, matang, sampai akhirnya hilang dan sembuh. Tetapi… ternyata tidak berakhir di sini. Titik sariawan yang lain tidak mau kalah dan muncul persis setelah sariawan yang pertama sembuh. Kini dia muncul di lidah sisi sebelah kiri. Dan sariawan di lidah rasanya jauh lebih maknyuss daripada sariawan di bibir.

Entah kenapa saya memang punya sejarah panjang dengan sariawan. Seingat saya, memang dari dulu sudah begini. Sering sekali sariawan muncul, dan seringkali ia tidak sendirian. Minimal ada dua sariawan yang kadang muncul berbarengan. Ada sekali waktu saya ingat, beberapa sariawan muncul di sebuah titik yang berdekatan. Mungkin karena mereka sudah begitu akrab, akhirnya mereka setuju untuk berkoalisi dan hasilnya bergabunglah beberapa sariawan itu menjadi satu.

Sariawan yang paling parah saya alami tahun 2013 yang lalu. Percaya atau tidak, ada lebih dari 5 sariawan yang ingin unjuk gigi. Lokasinya pun tersebar. Walhasil, serangan sporadik ini membuat saya tidak berdaya. Berbagai amunisi saya coba. Dimulai dari andalan pertama yaitu albothyl. Dari dulu memang ini menjadi senjata pamungkas. Nah, dengan pedenya saya tempel itu albothyl di lokasi serangan. Seperti biasa, perihnya bikin air mata keluar sendiri. Setelah beberapa waktu, reaksi yang timbul ternyata berbeda dari yang biasanya. Alih-alih sembuh, sariawannya malah menjadi bengkak. Wow… mantaps…

Akhirnya mulailah perang paling menentukan dalam sejarah saya dan sariawan. Setelah senjata pamungkas saya kalah, saya pun mencoba beberapa senjata yang lain. Seingat saya waktu itu saya mencoba larutan penyegar, beberapa antibiotik dari dokter, obat kumur, sampai madu. Beberapa dokter sudah saya datangi, tetapi tidak ada yang mampu memecahkan masalah ini. Selama hampir 1 bulan kondisi ini berlangsung. Walhasil, saya semakin lesu. Tidak lain karena makanan dan minuman sulit untuk masuk. Bayangkan aja, jalan masuk cuma 1 yaitu mulut. Tapi di jalan masuk itu banyak ranjau yang tersebar. Satu ranjau tersentuh aja udah bikin mulut cenat-cenut. Apa jadinya kalau ranjau yang tersentuh lebih dari 1? Bahkan minuman pun sulit masuk karena ketika ia menyentuh sariawan, rasa nyerinya seperti pisau yang menusuk-nusuk.

Saat itu rasanya semua harapan hilang, dunia menjadi gelap dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan (lebay dikit). Jangankan diri sendiri, dokter aja tidak tahu apa masalahnya. Salah satu dokter mulut yang saya datangi malah merekomendasikan saya untuk datang ke dokter internis pencernaan. Kesimpulan itu dia dapatkan hanya dengan mendengar cerita saya dan saya merasa bukan dari pengetahuan dia tentang sakit yang sedang saya alami. Saat saya konsultasi dengan dokter internis itu, dia menyarankan untuk melakukan sebuah tindakan dalam kedokteran yang namanya saya lupa. Tapi prosedurnya dengan memasukkan sebuah alat lewat anus untuk melihat kondisi di dalam usus. Untuk yang ini saya pikir-pikir dulu… hehehe…

Ketika semua hal di atas sudah dilakukan, saya tidak tahu langkah apa lagi yang bisa ditempuh. Perut lapar, tapi mulut sakit. Sungguh sebuah dilema. Akhirnya pada suatu hari saya ijin tidak berangkat kerja karena sudah saking lemasnya. Kalau ngga salah waktu itu hari Jumat. Selepas waktu sholat Jumat, saya coba meminum air putih. Hei… it feels better. Rasanya memang masih nyeri, tapi rasa sakitnya sudah berkurang dari sebelumnya. Alhamdulillah. Sejak saat itu pun kondisi saya berangsur-angsur pulih. Para sariawan yang unjuk gigi sekarang malu-malu dan akhirnya menghilang sendiri.

Well, itulah cerita tentang sariawan. Berhubung sudah beberapa hari ini kena sariawan setelah beberapa lama musuhan, pengen aja menulis tentang si ‘musuh’ lama ini. Seingat saya setelah mulai rajin meminum madu, sariawan memang jarang mampir lagi. Masalahnya, beberapa waktu ini memang udah mulai kurang konsisten untuk meminum si cairan manis dan kental ini. Mungkin ini waktunya untuk terus komit meminum madu agar si sariawan kembali enggan untuk menampakkan dirinya kembali.

Pernah sariawan parah juga? Sharing yuk disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.