Pages

Categories

Life is beautiful

“Masih ingat film life is beautiful?”

Begitu kira-kira pertanyaan istri saya suatu saat belum lama ini. Ingatan saya pun menerawang mencari data tentang film ini. Pelan-pelan saya kembali ingat alur cerita dan final dari film yang menyentuh ini. Terus terang ini adalah sebuah film yang luar biasa, contoh yang baik tentang bagaimana sebetulnya kita bisa memilih apapun sikap kita untuk setiap kejadian yang menimpa kita.

Buat yang belum tahu, film ini bercerita tentang seorang tahanan perang nazi dengan seorang anak laki-lakinya. Sang ayah berusaha dengan sangat keras menciptakan suasana yang menyenangkan untuk sang anak. Dia mengarang cerita bahwa saat ini mereka ada dalam sebuah permainan dan sedang berusaha mengumpulkan poin untuk mendapatkan hadiah di akhir permainan. Untuk setiap kejadian yang menimpa mereka, sang ayah berkata bahwa mereka berhasil mendapatkan beberapa poin tambahan. Sang ayah berjanji bahwa diakhir permainan, poin mereka akan cukup untuk mendapatkan sebuah tank. Berbagai peristiwa mereka alami sampai akhirnya pihak nazi mengalami kekalahan dan kekacauan pun timbul. Sang ayah meminta si anak bersembunyi di sebuah kotak kayu dan memintanya untuk tidak keluar sampai semua orang pergi. Ia bilang pada anaknya bahwa dengan bersembunyi, mereka akan mendapatkan poin dan hadiah tank akan mereka dapatkan. Tapi saat ia berusaha mencari istrinya, ia ditangkap oleh beberapa prajurit nazi. Bahkan ketika ia akan dieksekusi, saat ia melewati kotak tempat anaknya bersembunyi, ia meniru langkah para prajurit, untuk menunjukkan pada anaknya bahwa ia masih ada dalam permainan. Keesokan harinya, pasukan Amerika menguasai camp itu dan saat si anak keluar dari box, ia diijinkan untuk ikut di atas tank.

Ini adalah sebuah kisah komedi yang tragis. Tetapi diluar segala intrik dan politik yang terkandung dalam film tersebut, ada satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Bahwa setiap peristiwa sebetulnya dapat kita lihat dari sisi manapun yang kita mau. Ya, sisi manapun. Tidak percaya?

Seorang tetangga saya istrinya telah hamil 9 bulan. Saat dilahirkan, ternyata si anak tidak selamat dan meninggal. Apa reaksi mereka? Saat kami mengunjungi rumah sakit dan turut berbela sungkawa, pasangan suami istri itu tidak menunjukkan kesedihan yang dalam. Bahkan cenderung biasa-biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Luar biasa. Kondisi sebaliknya pernah pula saya temui dengan kejadian yang kurang lebih sama. Istri saya bercerita bahwa seorang ibu di TK anak kami begitu terpukul dengan peristiwa yang pernah ia alami itu dan dari caranya bercerita tertangkap bahwa ia menyalahkan dokter karena tidak dapat menyelamatkan anaknya. Ini contoh peristiwa yang sama dengan reaksi yang berbeda.

Kenapa bisa begitu? karena diantara peristiwa dan reaksi kita, ada ruang berupa pilihan. Dalam ruang pilihan itu kita bebas untuk memilih apakah kita akan bersedih, gembira, marah atau berbagai bentuk emosi lainnya. Itulah sebabnya untuk sebuah peristiwa yang sama, berbeda-beda sikap orang terhadap peristiwa itu.

Stephen R Covey, pengarang buku 7 habit of highly effective people bercerita bahwa pernah suatu saat dia memberi ceramah publik tentang hal ini. Kemudian seorang wanita tiba-tiba berteriak, mungkin seperti archimides saat dia berteriak “eureka”. Selesai ceramah, Covey bertanya pada wanita itu dan wanita itu menjelaskan. Dia seorang perawat, dan dia memiliki seorang pasien yang sangat menjengkelkan. Tidak ada perawat yang tahan dengan pasien itu dan setiap kali berurusan dengan pasien itu, dia selalu merasa sedih dan tertekan. Saat mendengar ceramah Covey, awalnya dia merasa heran, bagaimana dia bisa memilih perasaannya saat mengalami kejadian yang menjengkelkan itu. Tetapi akhirnya dia menyadari bahwa hal itu bisa dilakukan dan saking senangnya, saat itulah dia berteriak di tengah-tengah ceramah Covey. Perawat ini menyadari bahwa seburuk apapun perlakukan si pasien, seharusnya tidak berpengaruh pada diri si perawat. Dia bebas untuk menentukan suasana hatinya sendiri.

Teori yang menarik. Dan teori ini menurut saya pada prinsipnya dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apapun kejadian yang menimpa kita sehari-hari, kitalah yang mempunyai kekuasaan untuk menentukan mood kita, suasana hati kita.

Punya teori yang berbeda? Silahkan sharing di sini. Mudah-mudahan bisa memperkaya wawasan kita semua.  

 

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *