«

»

Sep 26

Sebuah kisah team management

Pagi kemarin, sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan, ada sebuah meeting sharing session dari pihak marketing ke pabrik. Saya ikut dan menjadi peserta.

Setelah sharing dari beberapa pembicara, tiba giliran terakhir presentasi dari seorang manajer sales. Sebagai ice breaking dia memulai dengan sebuah kisah yang unik. Begini ceritanya:

Di sebuah tim dayung dari negara X, ada 8 orang yang dianggap kompeten dan direkrut sebagai tim demi mengharumkan nama negara.

Uniknya, dari 8 orang ini hanya ada 1 orang yang benar-benar mendayung. Sisanya hanya memberi perintah kepada si pendayung ini. Walhasil, ketika tiba waktunya bertanding, tim ini berhasil… kalah.

Tidak puas dengan hasil ini, semua orang memikirkan cara untuk bisa meningkatkan performa tim mereka. Akhirnya, dengan dibantu oleh sekelompok konsultan eksternal, mereka berhasil menemukan sebuah formula jitu yaitu dengan mengadakan perubahan di sisi organisasi dan manajemen. Diputuskanlah bahwa mulai saat itu akan ada 4 Manajer, 2 General Manajer dan 1 Direktur. Dimana posisi 1 orang lagi? Ya, orang ini adalah satu-satunya orang yang mendayung tadi dan dia berhasil menduduki posisi paling penting… yaitu sebagai pendayung.

Dengan berbekal keyakinan terhadap strategi ini, para punggawa di tim dayung ini melakukan skill mapping, job analysis, dan lain-lain, serta memberikan pelatihan kepada si pendayung untuk meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Setelah semua dirasa siap, mereka pun kembali bertanding. Hasilnya luar biasa… mereka kembali kalah.

Analisa terhadap semua aktifitas yang telah mereka lakukan selama ini pun digelar. Evaluasi demi evaluasi dilaksanakan. Hasilnya, tim manajemen sampai kepada suatu kesimpulan bahwa ada 2 masalah dalam tim mereka yaitu sumber daya dan alat.

Maka mereka pun memanggil si pendayung… dan memecatnya. Mereka pun mengganti perahu yang selama ini mereka pakai dengan perahu lain yang lebih mahal.

Berkat kerja keras semua orang dalam menganalisa masalah dan menghasilkan solusi, akhirnya semua mendapat bonus yang besar dari negara mereka. In the end, everybody happy… kecuali si pendayung.

Fiuh… what a story.

Ice breaking ini sebetulnya sama sekali tidak berhubungan dengan materi yang akan dibahas oleh sang manajer. Tapi berhubung kisahnya unik dan baru kali ini kami dengar, menjadi lucu bagi mereka (termasuk saya) yang merasa menjadi pendayung… hehehe… kayaknya ini juga jadi ajang curcol buat si manajer.

Anyway, ada pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini.

Buat anda yang pengusaha, saat anda membentuk tim, pastikan bahwa anda merekrut orang yang tepat sehingga tidak terjadi salah kaprah seperti cerita di atas. Tepat passionnya, memiliki integritas dan satu visi dengan anda sebagai owner. Passion berarti dia menyukai apa yang dia lakukan, sehingga dia tidak dapat membedakan antara bekerja dengan bermain. “Work is where you play”, begitu slogannya. Anda butuh 8 pendayung, maka rekrutlah 8 pendayung sejati, jangan yang bertipe thinker/strategist. Integritas berarti dia dapat dipercaya atau amanah, dan jujur. Kesamaan visi berarti tujuan hidupnya kurang lebih satu arah dengan tujuan perusahaan anda. Misalkan anda merekrut orang untuk yayasan sosial anda, maka calon karyawan anda haruslah orang yang menyukai kegiatan sosial, pernah berkecimpung di dalamnya dan bukan orang yang mengincar perkembangan karir.

Buat karyawan, cerita ini menjadi peringatan bagi anda bahwa dimana pun anda bekerja, peluang anda berada dalam posisi si pendayung selalu ada. Dan ketika itu terjadi… there is no way out, kecuali anda bisa berubah menjadi karyawan bintang. Karyawan yang tidak hanya bekerja baik, tetapi bekerja melebihi ekspektasi dari job description anda. Jaman sekarang gitu loh… “Perfect is not good enough”.

Sulit? Well, there is another way out. Ada jalan keluar lain, yaitu menjadi mandiri. Mandiri secara penghasilan, tidak lagi tergantung pada gaji bulanan. Prinsipnya adalah “tetap berpenghasilan” dan bukan “penghasilan tetap”.

Pilihannya kembali ke tangan anda. Will you take the risk, come out of your comfort zone and face whatever challenge that will come? Or will you just accept the situation and give excuse on your action?

May you choose wisely.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>