«

Dec 25

Pelajaran dari bapak pemancing

Dalam sebuah perjalanan bersama si sulung, kami menyempatkan diri untuk berhenti di pinggir sebuah danau di daerah Cipondoh, Tangerang. Untuk menghilangkan dahaga, saya memesan es doger di penjaja es yang ada di situ. Sang penjaja pun dengan sigap segera membuatkan dua buah es untuk kami.

Pemandangan di Danau Cipondoh cukup menarik. Saya ingat, dulu sekali saat danau ini belum terlalu diperhatikan, permukaan danau ini pernah tertutup tanaman eceng gondok. Sama sekali tidak menarik. Tetapi sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Danau ini telah menjadi sebuah tempat pariwisata. Kondisi airnya cenderung lebih bersih. Tidak ada lagi eceng gondok sejauh mata memandang. Sesekali perahu bebek yang dinaiki pasangan muda-mudi atau keluarga tampak melintas. Deretan saung-saung di pinggir danau pun menambah asri pemandangan dari pinggir danau.

Sambil menikmati es yang dihidangkan, kami menikmati pemandangan yang ada, sedikit agak jauh dari tepi danau. Tak jauh dari tempat kami beristirahat, tampak seorang bapak sedang memancing ikan persis di tepi danau. Rupanya danau ini juga menarik bagi penikmat hobi memancing. Tidak hanya bapak itu, dikejauhan tampak juga beberapa orang sedang melakukan hal yang sama, baik sendiri maupun dalam sebuah grup. Ada juga beberapa orang yang terlihat baru saja datang dan segera mencari lokasi yang tepat untuk menempatkan kailnya.

Si Bapak yang memancing di dekat kami tampak khusuk memperhatikan kailnya. Beberapa kali ia menarik kail, kemudian mengganti umpan sebelum kembali menempatkan mata kailnya ke dalam air. Ternyata memancing di danau berbeda dengan cara memancing yang sering saya bayangkan. Dalam benak saya, setelah umpan dikaitkan di mata kail, si pemancing akan melempar mata kail tersebut dengan mengayun kailnya ke belakang lalu menyentakkannya ke depan. Sedangkan si bapak hanya menaruh mata kailnya tanpa bersusah payah melakukan hal tersebut.

Sepertinya memancing memang tidak perlu banyak gaya. Buktinya, si bapak berhasil mendapatkan beberapa ikan selama kami duduk di situ. Memang tidak terlalu besar, bahkan boleh dibilang ikannya agak kecil. Tetapi yang penting toh ia berhasil mendapatkan ikan.

Satu hal menarik perhatian kami saat si bapak berhasil memancing ikan. Ia dengan cermat akan mengangkat kailnya, melepaskan ikan yang terpancing dari mata kailnya, lalu sambil memegang ikan tersebut ia agak membungkuk ke depan dan melepaskan ikan itu kembali ke danau. Kami yang menyaksikan dari kejauhan menyaksikan peristiwa tersebut dari kejauhan lalu menyimpulkan bahwa ia memancing hanya untuk hobi.

Saya lalu sharing kepada si sulung sebuah artikel yang pernah saya baca. Isinya menyebutkan bahwa jika seekor ikan yang telah terkait di mata kail lalu dilepaskan kembali, maka ikan tersebut akan mengalami masalah di habitatnya. Ini disebabkan karena dinding mulutnya telah robek terluka akibat mata kail yang tajam sehingga ia kesulitan untuk bisa mencari makanan sebagaimana biasanya. Si sulung mengangguk-angguk tanda mengerti.

Tak lama, setelah dahaga kami terpuaskan, kami memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan. Tetapi sebelum itu, saya memutuskan untuk berjalan mendekat ke tepi danau. Setelah dekat, barulah saya paham kenapa si bapak selalu membungkuk setiap kali ia mendapatkan ikan. Ternyata, tepat di bawah kaki si bapak terdapat sebuah korang/jaring tempat menyimpan ikan-ikan yang sudah tertangkap. Ia sengaja menempatkan korang agak di bawah agar dasar korang tersebut tetap ada di bawah air sehingga ikan tangkapannya akan tetap hidup.

Ya ampun, ternyata kami salah sangka. Masalahnya, dari tempat awal kami berada, korang tersebut sama sekali tidak terlihat. Baru ketika saya merubah posisilah keberadaan korang itu baru kelihatan. Kami pun saling berpandangan. Inilah perlunya memastikan kebenaran sesuatu hal, sehingga kita tidak hanya berasumsi. Seringkali asumsi terbentuk hanya dari satu sisi, padahal masih ada sisi lain yang tidak terlihat. Sisi yang justru menjadi alasan utama kenapa seseorang melakukan hal yang ia lakukan.

Oke, pak pemancing. Terima kasih untuk pelajaran kehidupan hari ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>