«

»

Dec 14

Mau sampai kapan?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat sharing perbincangan saya dengan seorang rekan kerja di kantor via twitter. Kurang lebih dia menyampaikan bahwa setelah melakukan hitung-hitungan gaji dengan istrinya, dia sampai pada satu kesimpulan… Ini kapan bisa beli mobilnya??

Hehehe…

Ada diantara anda yang punya pengalaman serupa? Saya rasa tidak sedikit ya yang pengalamannya sama. Termasuk saya. Bisa jadi kita termasuk dalam golongan karyawan yang gajinya ada di kisaran 10 koma… tanggal 10 koma, Hehehe… Masih untung kalau impas, kadang malah minus.

Nah, temen saya di awal termasuk golongan karyawan 10 koma ini. Rupanya salah satu impian dalam hidupnya adalah memiliki sebuah mobil. Maka jadilah keluar pertanyaan yang manusiawi tadi. Untuk orang lain sangat mungkin pertanyaannya akan berbeda, bisa jadi “Ini naik hajinya kapan?” Atau, “ini punya rumahnya kapan?”.

Menjadi karyawan adalah pilihan hidup. Sama seperti pilihan ketika bangun di pagi hari, mau sikat gigi dulu atau mau langsung sarapan. That simple.

Masalahnya, ketika banyak hal dikaitkan dengan pilihan menjadi karyawan, ini tidak lagi terlihat simpel. Contohnya, kalau saya tidak menjadi karyawan, keluarga saya mau makan apa? Atau, saya punya cicilan motor, kalau tidak menjadi karyawan, bagaimana saya bayar cicilan?

Padahal masalahnya cuma 1, anda cuma butuh sumber penghasilan. Sedangkan sumber penghasilan sebetulnya bukan hanya dari menjadi karyawan. Menurut Robert Kiyosaki, selain menjadi karyawan, anda bisa menjadi self employee/profesional (contoh: dokter, lawyer dll), atau menjadi business owner, atau menjadi investor.

Kalau saya lagi ngomong begini, biasanya sih pernyataan yang umum saya dengar adalah : “Jadi self employee saya tidak bisa. Jadi Business owner atau investor perlu modal… Saya tidak punya modal…”

Nah, kalau jawabannya “Saya tidak punya modal”, saya cuma bisa mangut-mangut. Dari pengalaman saya, termasuk hasil diskusi dan membaca biografi orang-orang yang saya anggap sukses, modal (dalam hal ini uang) bisa didapat bahkan saat kita dalam keadaan bangkrut sekalipun. Itu artinya tidak memulai wirausaha karena tidak punya modal uang sebetulnya bukan alasan. Orang tidak berwirausaha karena mereka tidak tahu cara berwirausaha, dan takut meninggalkan dunia karyawan yang “nyaman”.

Padahal hidup sebagai karyawan berarti hidup dalam takaran. Gajimu sebulan sudah jelas, bekerja giat ataupun tidak bukan masalah. Paling berbeda sedikit saat pembagian bonus… kalau ada. Itu artinya sudah bisa dikalkulasi pasti berapa pengeluaran tiap bulan dan sisa lebihnya… kalau ada.

Sama seperti teman saya tadi, dia ingin beli mobil, katakanlah seharga 170 juta. Maka rata-rata sebulan dia harus mengeluarkan kurang lebih 3 juta untuk cicilannya. Jika gajinya sejumlah 5 juta sebulan, maka ia hanya punya 2 juta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Itu belum ditambah dengan ongkos maintenance mobilnya sendiri. Belum biaya sekolah anak, ongkos listrik dll. Weleh… weleh…

Sekali lagi, ini adalah pilihan. Dan setiap pilihan ada resiko, ada konsekuensinya. Bila anda merasa nyaman dengan kondisi saat ini, terbiasa menabung untuk membeli barang yang dibutuhkan, mungkin memang anda cocok menjadi karyawan. Tetapi bila anda terus menerus gelisah, yakin bahwa anda layak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik, maka ajukanlah pertanyaan sederhana ini… mau sampai kapan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>