«

»

Jul 30

Jam terbang 10.000 jam

Jadi saya ngga dianggap nih…

Begitu kira-kira omongan adik ipar saya tadi pagi.

Ceritanya, sehari sebelumnya mertua saya telpon dan mengajak untuk ziarah ke makam dan silaturahmi ke kerabat di Bekasi, sebagaimana kebiasaan mereka tiap tahun setiap selesai Bulan Ramadhan.

Maka sayapun menyiapkan kendaraan dan apa-apa yang dibutuhkan untuk berangkat besok. Paginya, anak-anak sudah rapi sejak subuh agar bisa sedini mungkin sampai di rumah eyang mereka. Tak lupa kami jemput adik kami yang lain yang tinggal satu komplek untuk berangkat bersama.

Tak berapa lama kamipun tiba di rumah eyangnya anak-anak. Saat itulah bapak mertua bilang kalau kali ini beliau akan membawa mobil sendiri. Kami pun terkaget-kaget. Masalahnya, biasanya kami berangkat bersama-sama dengan pertimbangan jarak yang jauh dan usia beliau yang sudah sepuh.

Saat itulah adik ipar saya yang tinggal bersama mertua kami bilang kalau dia yang akan membawa mobil yang satu lagi.

Saya dan istri tahu persis, adik kami itu bisa menyetir. Tetapi jarang sekali dia menggunakan keahliannya tersebut. Jarang sekali kami lihat dia membawa mobil, baik untuk sekedar latihan apalagi jalan-jalan. Wajarlah jika kamipun agak meragukan kemampuannya. Bukan apa-apa, perjalanannya cukup jauh.

Akhirnya, dia pun membuktikan kemampuannya… walaupun hanya sampai ke pemakaman. Sisa perjalanan diteruskan oleh bapak mertua. Yah, lumayan.

Kisah di pagi ini mengingatkan saya tentang teori latihan 10.000 jam. Menurut teori ini seseorang baru menjadi seorang ahli dalam bidangnya ketika telah menempuh pengalaman sebanyak 10.000 jam.

Dalam kasus di atas, adik saya bisa dibilang ahli dan tidak perlu diragukan kemampuannya dalam hal menyetir jika memang telah terbukti telah menempuh jam terbang yang banyak tersebut. Toh, juga menjadi kenyataan bahwa dengan kemampuannya saat ini dia ternyata hanya sanggup menempuh separuh perjalanan sebelum digantikan oleh bapak mertua.

Satu hal lagi yang menjadi perhatian saya adalah bahwa ternyata 10.000 jam tidak hanya dibutuhkan sebagai patokan keahlian, tetapi juga sebagai patokan acknowledgement atau pengakuan dari orang lain.

Saya contohnya. Dengan jam terbang menyetir yang tinggi sejak 10 tahun yang lalu, saat ini saya tidak perlu lagi meyakinkan orang kalau saya bisa menyetir. Perhatian orang lainpun bukan pada pertanyaan ‘apakah saya bisa menyetir’, tetapi lebih ke pertanyaan ‘pengendara macam apakah anda?’.

Inilah juga yang terjadi dalam dunia pekerjaan. Apapun itu. Seorang yang baru lulus SMA dan langsung melamar pekerjaan akan mendapatkan pertanyaan “apakah anda bisa bekerja?”. Sedangkan seorang yang telah bekerja selama 1 tahun di sebuah bidang, saat melamar pekerjaan di tempat lain akan mendapat pertanyaan “pekerja macam apakah anda, apakah anda yang kami cari?”.

Jadi, bila saat ini anda ingin diakui dalam suatu bidang. You know what to do, right? Tempuh 10.000 jam terbang anda. Dengan demikian anda bisa menepis semua keraguan dan membuktikan kalau anda expert di bidang itu.

Selamat mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>