«

»

May 05

Find the root cause

Suatu hari saya berkesempatan menemani si kecil bermain komputer. Berhubung umurnya baru 4 tahun, dia masih perlu didampingi untuk bermain bersama-sama. Kalau untuk sekedar urusan memegang mouse sih dia sudah biasa. Malah kadang-kadang dia ikut bermain counter strike… game kakaknya. Masalahnya dia seringkali tidak sabar dan minta kita yang memainkan game yang dia mau. Seringnya sih jadi ngga jelas siapa yang main game, ayahnya atau si kecil… hehehe…

Nah, hari itu saat kita sedang bermain tiba-tiba saya mencium bau terbakar. Saya pun segera mencari sumber baunya. Tak dinyana, ada asap mengepul dari dalam PC. Segera saya matikan stabilizer dan mencopot colokan listrik dari stekernya. Alhamdulillah, tidak terjadi hal yang lebih buruk dari pada itu. Tidak menunggu lama, saya segera mengurai PC saya sambil mencari sumber masalahnya. Copot semua kabel, buka motherboard, cek satu-satu hardware yang menempel. 

Dalam hati sempat heran juga. Ketika asap mengepul tadi, kondisi komputer masih dalam keadaan hidup. Itu artinya tidak terjadi konsleting yang parah yang biasanya menyebabkan mcb di rumah turun dan listrik padam.

Akhirnya setelah ditelusuri, kecurigaan timbul pada heatsink atau kipas prosesor. Soalnya hanya di hardware inilah bau yang menyengat tercium cukup kencang. Khawatir prosesornya kenapa-napa, sekalian aja saya buka heatsinknya dan copot prosesor. Tilik punya tilik, secara visual tidak terlihat ada part yang gosong. Padahal, dengan asap yang cukup tebal tadi seharusnya ada sesuatu yang gosong. Maka saya pun menempelkan kembali prosesor ke tempatnya dan menambah heatsink grease di atas prosesor sebelum ditempel lagi dengan kipasnya.

Oke. Semua part sudah diperiksa dan ternyata saya tidak bisa melihat bagian mana yang sebenarnya bermasalah. Akhirnya saya putuskan untuk menyalakan kembali PC dengan semua hardware terpasang, kecuali harddisk.

Baru sebentar, tiba-tiba asapnya muncul lagi. Nah… baru sekarang ketahuan sumbernya. Ternyata berasal dari salah satu colokan power supply yang masih ada penutupnya. Segera komputer saya matikan kembali.

Setelah meneliti kondisi kabel yang gosong, saya mengambil sebuah kesimpulan. Kabel gosong karena penutup yang tidak dibuka menimbulkan jamur yang tidak terlihat di dalam soketnya. Kemungkinan jamur ini disambar listrik dan menimbulkan percikan api serta mulai membakar area di sekitarnya. Kebakaran lokal inilah yang lalu menimbulkan asap dan bau gosong yang untungnya dapat segera dilihat dan diantisipasi.

Saya pun mengambil gunting dan memotong bagian kabel tersebut, serta mengisolasi bagian yang sudah dipotong dengan seal tape. Tidak lupa soket-soket yang lain saya bersihkan juga dari jamur yang tampak. Belajar dari peristiwa ini, penutup yang masih menempel di soket akhirnya saya copot. Setelah itu komputernya kembali saya tes untuk memastikan bahwa tidak ada lagi bagian yang terbakar. Alhamdulillah, setelah saya nyalakan, tampaknya tidak ada lagi masalah yang timbul. Anak-anak pun dapat kembali menggunakan komputer untuk bermain.

Dari peristiwa hari itu saya bisa mengambil sebuah pelajaran. Jika kita mendapati sesuatu yang salah dalam hidup kita, berhentilah. Cari akar masalahnya, lalu perbaiki atau potong. Lalu kembalilah melangkah.

Dalam peristiwa PC terbakar itu, saya memotong kabel gosong yang sebetulnya menyambung ke 2 buah kabel soket. Itu berarti saya kehilangan 2 colokan listrik untuk hardware saya. Tentunya saya bisa saja memilih untuk menyambung dan memanfaatkan bagian yang masih bisa digunakan. Tetapi melihat dari kondisi kabel yang gosong serta sisa kabel yang ada, juga perkiraan kegunaan dari kabel tersebut, maka saya lebih memilih untuk memotongnya.

Ini sebetulnya prinsip yang berlaku di semua bidang kehidupan. Jika kita membiarkan masalah timbul, maka tidak akan mengherankan jika suatu saat kita akan menuai akibat yang lebih besar daripada jika kita langsung mengatasinya saat masalah itu muncul. Mengatasi masalah tidak selalu melalui proses yang manis. Bahkan seringkali usaha menyelesaikan masalah adalah sebuah momen yang paling tidak menyenangkan dalam hidup kita. Tetapi itulah proses yang harus dijalani. Dan ini adalah proses yang universal. Ibarat petani, apa yang dia lakukan ketika padi yang ditanamnya mulai diserang wabah? Apakah dia akan diam saja? Apakah dia akan menunggu wabah menghancurkan seluruh padinya baru dia mulai mencari solusi? tentu tidak. Petani itu tentunya akan segera mencari solusi segera ketika wabah mulai terlihat. Paling tidak dia bisa meminimalisir kerugian yang timbul akibat serangan wabah tersebut.

Jadi inilah pelajaran berharga yang bisa saya share dalam tulisan kali ini.

How about you? Sudahkan anda berhenti dan menyelesaikan masalah dalam hidup anda?

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>