«

»

Sep 27

A proud man I am

Pernah mendengar lagu My Way yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra? Well, saya sebetulnya sudah cukup familiar dengan lagu ini, tetapi baru beberapa waktu ini lagu oldies ini menyita perhatian saya.

Lagu ini berkisah tentang seorang laki-laki terkenal, yang merasa waktunya hanya tinggal sebentar lagi. Ia pun menceritakan tentang lika-liku perjalanan hidupnya. Pria ini begitu bangga dengan dirinya. Dia mengatakan bahwa dia hanya memiliki sedikit saja penyesalan sepanjang hidupnya. Dia tidak menyesal karena dia merasa telah melakukan hal yang memang harus dilakukan dan menghadapi apapun resikonya. Dia pun membuat rencana-rencana untuk setiap tindakannya dengan penuh kehati-hatian.

Meski demikian, pria ini tahu bahwa ada pula saat dimana dia terlalu berambisi sehingga “ate more than he could chew”, memakan sesuatu melebihi kemampuannya mengunyah. Tetapi diluar semua itu saat dia mengalami keraguan, dia menghadapi semuanya dan tetap berdiri tegak dengan bangga.

Saat masa sulit telah berlalu, saat air mata sudah mengering, dia merasa terkagum-kagum karena tidak menyangka bahwa dia telah berhasil melalui semua itu. Dan bahwa caranya melalui semua rintangan bukan dengan cara yang memalukan.

Baginya seorang laki-laki sejati akan mengatakan hal yang memang ingin dikatakannya. Tidak seperti seseorang yang tunduk pada orang lain, yang mengatakan hal yang sesuai dengan kehendak orang lain, bukan mengikuti keinginannya sendiri.

Lirik lagu ini sungguh powerful. Sebuah kisah tentang kebanggaan seorang pria tentang perjalanan hidupnya yang walaupun penuh rintangan, tetap dihadapi dan tidak menyerah. In the end, kebanggaan tertinggi dari pria ini adalah dia melakukan semua itu dengan caranya sendiri, “I did it my way”.

Sungguh, ada getaran dalam diri saya yang tidak dapat terbendung ketika saya merenungi lirik ini. Betapa sebagian besar hidup saya, mungkin hidup anda juga, ternyata dijalani sebagai pemuasan terhadap kehendak orang lain. Betapa sejak sekolah kita telah di doktrin oleh kurikulum dan guru-guru kita. Ketika beranjak dewasa, kita didoktrin oleh lingkungan tentang apa yang boleh apa yang tidak boleh. Lalu masuk ke dunia kerja, kita didoktrin oleh perusahaan dan bos kita. Dan mungkin untuk sebagian laki-laki ketika menikah, didoktrin oleh istri dan mertuanya… hehehe…

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa itu semua buruk. Bahkan mungkin ada sisi positif masa lalu yang membuat kita mampu berada di posisi kita saat ini. Saya hanya ingin mengajak anda untuk merenung bersama saya, apakah perjalanan hidup kita sudah berjalan sebagaimana yang kita harapkan? Pada akhir hidup kita nanti, apakah kita dapat berdiri dengan bangga dan mengatakan “I did it my way?”.

My friend, tidak ada kata terlambat. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diubah. Tetapi apa yang belum terjadi di hadapan kita masih mungkin untuk kita rencanakan. Berikhtiarlah untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Tulis impian anda, tulis rencana anda untuk meraih impian itu, dan lakukan langkah pertamanya sekarang juga. Setelah langkah pertama, jalani langkah2 selanjutnya dengan konsisten. Hadapi suka dan dukanya. In the end, bahkan jika anda belum berhasil mencapai tujuan anda, sadarilah bahwa anda sudah melakukan perubahan. Dan saat itu, berdirilah dengan bangga dan katakan pada semua orang… “I did it my way”.

See you there, my friend.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>